Senin, 06 Oktober 2014

Gowes Pangalengan-Rancabuaya

Akhirnya, 27 September 2014, 1 hari setelah hari ulang tahun bidadari kecil Aisha, agenda Touring Pangalengan-Rancabuaya terlaksana juga. Total peserta perjalanan ini adalah 22 orang pesepeda yang sebagian besar adalah dari Komunitas Pekerja Bersepeda PT Bio Farma atau Biocycling – dan belakangan diplesetkan menjadi Bio Smilling.

Kami berangkat 30 menit dari waktu yang direncanakan, tepat pukul 6.00 waktu Indonesia bagian Pasteur, Bandung, 4 buah kendaraan yang mengangkut kami dan sepeda kami take off. Kali ini kami menggunakan 2 unit elf pariwisata kapasitas 15 orang, 1 unit Grand Max bak terbuka dan 1 unit Panther bak terbuka.

Semula, kami merencanakan untuk start gowes dari Situ Cileunca, dari titik ini, jarak menuju pantai Rancabuaya diperkirakan sekitar 70 km, namun karena hari yang sudah semakin siang, titik start pun kami geser 10 km.

Kendaraan berhenti di ketinggian 1484 dpl, di sebuah warung tepi jurang dengan pemandanagan permadani hijau hamparan kebun teh yang menyejukkan mata. Kami pun bersiap, seluruh sepeda diturunkan, beberapa di antara kami sibuk mencari toilet, sebagian yang lain memeriksa kembali kelengkapan sepeda….

Road captain perjalanan kali ini, Om Hilman memberikan sedikit diskripsi perjalanan dan mengingatkan untuk tetap berhati-hati, jalan turun bukan berarti kita lengah..justru hal ini yang kadang sangat melenakan, memanjakan diri menikmati kecepatan menuruni bukit hingga akhirnya lupa untuk ‘ngerem’. Intinya, semua harus hati-hati.

Setelah sedikit pemanasan yang dipimpin oleh Om Tiyo dan berdo’a untuk kelancaran kegiatan, tepat tepat pukul 09.30 perjalanan pun dimulai.

Om Hilman, dengan sepeda lipatnya ditemani beberapa rekan lain memimpin di depan, sementara Trio Jangkrik, seperti biasa di belakang, sebagai sweeper (hihi…padahal…. – alibi, red).
Suguhan pertama perjalanan adalah tanjakan landai dengan pemandangan hamparan permadani kebun teh yang berwarna hijau..sebetulnya sayang untuk dilewatkan tanpa mengambil gambar, tapi mengingat jauhnya perjalanan kami menahan diri untuk tetap ‘ngaboseh’ menjaga ritme sekaligus menghemat tenaga.

Secara alami, entah factor gravitasi (maap untuk yg punya masalah berat badan) atau ketahanan fisik, rombongan mulai tercecer cukup jauh, namun dari awal saya sudah wanti-wanti, tidak perlu khawatir, di belakang mobil penyapu siap untuk sewaktu-waktu diperlukan.

30 km pertama kami lalui dengan relatif tanpa ada hambatan, apalagi sesekali kami mendapat lambaian tangan dari anak-anak SD yang sepertinya mendapat hiburan gratis dengan kehadiran kami, tampaknya warna-warni Jersey yang kami pakai adalah keunikan tersendiri bagi mereka.

Akhirnya, di kilometer ke 30 kami memutuskan untuk berhenti, waktunya makan siang sekaligus re-group dan meriksa rem kami masing-masing.

Warung nasi yang kami singgahi berada di tikungan U dengan pemandangan yang cukup eksotis. Dan saat kami melihat jendela luar, agak kaget juga…ternyata kami telah besepeda sangat jauh….jalan yang telah kami lalaui adalah sebuah garis kecil di bawah lembah. Alhamdulillah atas nikmat kekuatan dari-Mu, Ya Allah….

Setelah beristirahat secukupnya serta jamak shalat Dhuhur dan Ashar, jam 12.30 perjalanan kami lanjutkan…
Etape ini yang kami rasakan cukup berat. Entah karena memang kontur jalan yang berupa rolling atau stamina, yang jelas mulai km 40 satu-persatu masalah itu mulai terjadi….kram kaki.
Beberapa hari sebelumnya, Om Tiyo sudah mengingatkan, sebagai persiapan touring jarak jauh, malam sebelum keberangkatan kami dianjurkan untuk menghabiskan minimal 2 L cairan elektrolit, selain itu selama perjalanan, asupan larutan elektrolit merupakan minuman wajib dengan ingterval tertentu yang harus diminum tanpa menunggu haus.

Tapi sepertinya beberapa rekan mengabaikan pesan penting ini, tidak ada jalan lain selain memanfaatkan mobil evakuasi.   J

Selanjutnya, dapat dikatakan  ini adalah gowes autis terjauh yang pernah aku lakukan. Seluruh perjalanan sisa dengan turunan dan tanjakan yang cukup memantang hanya ditemani oleh desiran angin di telingan dan panasnya matahari, tidak hanya dari atas, tapi juga dari bawah yang merupakan pantulan aspal yang….untuk yang satu ini aku acungi jempol…hampir seluruh perjalanan, jalan yang kami lalui adalah mulus, lebih mulus dari jalan di perkotaan atau antar lintas provinsi.

Hampir putus asa juga hingga akhirnya di kanan jalan terlihat tulisan RCB 9 km, Alhamdulillah…..

Tapi tiba-tiba radio ku berbunyi…. “Harboy monitor…kecelakan di depan, Pak Rahmat….!”
Astaghfirullah…ada apa ini…??

Rupanya seperti yang aku takutkan, terlena dengan turunan panjang sehingga lupa ‘ngerem’. Tapi Alhamdulillah sudah dekat ke pemukiman penduduk sehingga dapat segera cepat ditangani…dan rupanya hanya sekitar 2 km lagi dari lokasi finish   J

Jam menunjukkan pukul 16.30 ketika kami touch down Pantai Rancabuaya….surga tersebunyi di kawasan Pantai Selatan wilayah Garut. Hilang semua lelah…..

Tidak jelas kenapa dinamakan Rancabuaya yang secara harfiah bermakna Rawa Buaya, jika dilihat dari kontur pantai yang berkarang, sekilas bibir pantai ini menyerupai punggung buaya, mungkin hal ini yang menyebabkan pantai ini dinamakan Rancabuaya....

Pantai Rancabuaya adalah salah satu objek wisata alam pantai yang memiliki luas sebesar 10 ha dengan luas kawasan keseluruhan sebesar 1.524 ha, dan dari area tersebut yang telah dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas wisata sebesar + 2 ha. Status kepemilikan lahan area pantai Rancabuaya adalah 70% tanah milik dan sisanya adalah tanah desa. Sedangkan pengelola kawasan wisata Rancabuaya adalah Kompepar (Kelompok penggerak pariwisata) yang anggotanya terdiri dari masyarakat setempat. Pantai ini memiliki kemiringan landai pada dasar lautnya, serta rumput laut dan ganggang hijau sebagai flora laut dominannya. Sedangkan fauna laut dominannya adalah ikan tuna dan ikan karang. Untuk daerah pesisir pantai, daerah pantai Rancabuaya memiliki material berupa pasir halus yang putih bersih dan kemiringan tepi pantai yang datar. Tepi pantai memiliki panjang 1000-2000 m, dengan lebar 100-200 m, dan tingkat abrasi yang kecil. Flora dominan yang berada di tepi pantai yaitu pohon kelapa dan pohon ketapang. Juga terdapat sumber Air bersih yang berasal dari air sungai yaitu sungai cihideung dan sungai ciharashas yang mempunyai kualitas air yang jernih, rasa air tawar, dan bau air yang normal. Kegiatan wisata yang bisa dilakukan adalah hiking, trekking dan sightseeing. Lokasi:  Desa Purbayani Kecamatan Caringin Kabupaten Garut
Koordinat : 7 31 28" S, 107 28 40" E

Trek GPS :
https://www.dropbox.com/s/cbb30tha7num4bb/Pangalengan_Rancabuaya.gpx?dl=0

Profil perjalanan :